Fely Hilman's Site

Blog EntryMasa KecilJan 9, '08 11:29 PM
for everyone

 

Saya lahir di Kuningan-Jawa barat tanggal 14 November 1980. Kata mamah saya adalah anak paling berbobot di antara anak mamah yang lain. Pas lahir berat saya hampir mencapai 4 kg. Postur tubuh gemuk saya itu bertahan samapi kelas 6 SD. Karena badan saya yang endut saya sering diejek si ngedel alias si celana melorot sama kakak perempuan saya. Saoalnya setiap pake celana pasti harus dipasang di bawah perut gendut saya karena nggak muat. Jadi celana yang saya pakai terlihat seperti melorot.

Hal lain yang sering bikin aku minder waktu kecil adalah hidungku. Maklum di antara saudara-saudaraku hidungku paling besar dan pesek. Tapi mamah sering menghiburku kalau hidung kaya punya saya ini adalah hidung pejabat. Meski saya tak pernah percaya perkataan mamah tapi pendapat mamah itu cukup membuat saya terhibur.

Saya juga termasuk anak yang kuper dan jarang pergi jauh. Samapi kelas 6 SD saya tak pernah keluar dari desa Darma kecuali ikut mamah atau apa. Saya baru mengenal kota Cirebon pada saat saya lulus SMA dan berani pergi ke Jogja sendiri juga karena mau kuliah. Saya juga baru mengenal Jakarta pertama kali pasa saya ikut konser bersama grup nasyid saya, Justice Voice pada kira-kira semester VI.

Waktu kecil saya sangat penakut. Kalau ada film horor dan kebetulan nonton bareng saya pasti bakalan hilir mudik keluar masuk kamar tidur. Kalau film lagi tidak serem saya nonton. Tapi kalau suasana sudah mulai tegang saya bakal lari ke kamar dan menutup telinga agar suasana seram tidak terdengar. Bila sudah beberapa menit dan film kembali terdengar tidak menegangkan saya akan kembali nonton sambil sibuk bertanya tentang apa yang terjadi.

Sejak kecil saya biasa hidup mandiri. Ayah saya dulu kerja sebagai honorer di puskesmas dan setelah beberapa tahun akhirnya menjadi pegawai negri di Dinas P dan K. Sedang mamah jualan pakaian di pasar. Sepulang sekolah biasanya di rumah masih kosong. Kakak perempuan saya masih sekolah. Jadi kalau lapar saya masak sendiri. Tapi kalau bahan yang mau dimasak juga tidak ada saya mancing di kolam dan bakar ikan sendiri.

Paling menyenangkan kalau mamah datang dari pasar. Biasanya mamah bawa oleh-oleh. Saya paling suka gemet atau combro. Kadang-kadang juga bandros.

Waktu kecil saya biasa main di sawah, di selokan atau di pinggir Waduk Darma kalau pas lagi surut. Berenang di Darma Loka, di sungai atau main rakit di Waduk Darma adalah hal yang menyenangkan. Tapi ayah saya suka marah kalau saya main terlalu jauh atau terlalu lama. Maklum ayah saya tipe ayah yang ketat. Boleh dibilang galak.

Pernah suatu ketika saya diajak main ke Waduk Darma sama teman-teman. Karena takut tidak diijinkan saya nekat pergi diam-diam tanpa bilang dulu. Di Waduk Darma saya main rakit bersama teman-teman samapi agak ke tengah. Padahal saya tidak bisa berenang. Dan entah karena apa saya terpeleset dari rakit. Saya kecebur ke tempat yang dalam dan hampir tenggelam. Untung teman saya bisa menolong. Jadi saya bisa naik lagi ke rakit. Sejak saat itu saya tidak berani naik rakit. Saya juga takut sama air. Sampe usia saya mencapai 22 tahun saya tak bisa berenang karena takut tengelam. Syukur sekarang saya udah bisa renang. He he

Dari kecil saya suka nyanyi, nari sama gambar. Tapi karena saya tinggal di kampung bakat yang sudah menonjol dari kecil itu dibiarkan berlalu begitu saja. Bahkan seringnya jadi ejekan. Katanya itu kerjaan anak perempuan. Jadi saya lebih suka menyembunyikan kesenangan saya itu. Saya takut dibilang banci.

Banyak permainan waktu kecil yang sangat saya sukai tapi sekarang sudah jarang dimainkan. Dalu, loncat tinggi, angkreg, perang-perangan, petak umpet, kokoboyan, gotri. Semua permainan itu dimainkan rame-rame. Tidak bisa sendirian. Setiap sore di jalan pasti rame dengan anak-anak yang main macam-macam. Sedang orang tua nonton permainan itu sambil mengawasi anaknya yang sedang main. Kadang mereka ikut teriak atau komentar untuk menyemangati. Tapi tak jarang juga ada orang tua yang datang untuk marah-marah karena anaknya terlambat pulang dan belum mandi. Padahal setelah magrib anak-anak di kampung saya biasanya harus segera berangkat mengaji.

Kalau dipikir-pikir masa kecil saya lebih beruntung bila di banding anak-anak sekarang. Sekarang semua serba praktis dan individualis. Tak ada lagi main bareng-bareng, perang-perangan atau yang lain. Sekarang setiap sore jalanan di desa saya sangat sepi. Tak ada anak-anak yang main angkreg, dalu, kokoboyan, perang-perangan. Entah pada kemana anak-anak itu.

Yah….zaman sudah berubah. Semua sudah berubah. Tinggal kenangan indah yang tersisa. Semoga tulisan ini bisa mengabadikan sebagai kecil memori indah saya tentang masa kecil untuk saya wariskan pada anak cucu saya (he he anak cucu? Istri aja belon punya!).


disca wrote on Mar 30
Wah kang fely, ko Paradoks banget ya tampaknya dengan kang fely yang sekarang V^^
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help